Wednesday, May 30, 2012

DEMO CONTEST ACCOUNT BERHADIAH 48 juta



Hallo Rekan Trader,

Setelah sukses dengan demo contest sebelumnnya
di tahun 2010 dan 2011, Futures Galleria kembali
hadir dengan event demo trading contest di tahun
2012 ini.

Berbeda dari demo contest sebelumnya, 
demo contest kali ini akan diadakan di server real(server yang digunakan untuk live account).

Penyelenggaraan demo contest akan dimulaipada

  • Start : Senin, 11 Juni 2012
  • End   : Sabtu, 23 Juni 2012
Untuk pendaftaran dibuka mulai hari ini tanggal
30 Mei 2012 hingga tanggal 15 Juni 2012.

Total hadiah 
Rp 48 juta berupa uang tunai,
free margin dan welcome bonus.

Demo contest diselenggarakan tanpa dipungut biaya apapun, jadi siapa saja bisa turut serta.
Jadi tunggu apalagi? Daftar sekarang juga dan
raih hadiahnya.

Untuk mengetahui info selengkapnya mengenai cara
mendaftar dan ketentuan yang berlaku, anda dapat mengunjungi halaman 
DEMO CONTEST TRADING COMPETITION 2012
--

Your Trading Partner,
Futures Galleria BlogThe Authorized IB of Futures Galleria
www.FuturesGalleriaBlog.com
www.FGindo.com

Thursday, March 17, 2011

Penyebab Kanker Usus

Penyebab Kanker Usus


penyebab kanker usus



Tanda, gejala, penyebab kanker usus besar terlihat ketiak usia mulai meningkat. Mereka yang mengalami gejala ini harus segera berkonsultasi dengan dokter untuk diagnosa yang tepat. Mengabaikan tanda-tanda dan gejala tersebut dan tanpa diagnosis segera dan tepat akan berakibat fatal, mengatasi penyakit ini tidak pada waktunya bisa mengakibatkan komplikasi atau metastasis.

Jumlah korban kanker usus meningkat dengan cepat selama 30 tahun terakhir. Catatan menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka berada pada rentang usia 30-50 tahun. Penyebab yang paling terlihat dari ancaman ini adalah kecanduan merokok, umur, sejarah keluarga, pola makan tidak seimbang, dan beberapa masalah seperti sejarah polip di dalam tubuh.

Permulaan dari tanda-tanda dan gejala penyakit ini biasanya muncul sebagai awal seperti dipertengahan usia tiga puluhan dan dapat dicatat juga pada tahun kemudian. Dalam kebanyakan kasus, tumor dapat tumbuh selama bertahun-tahun sebelum Anda melihat tanda-tanda kanker usus besar. Oleh karena itu, yang terbaik adalah check up rutin agar bisa segera ditemukan tanda-tanda dan gejala penyakitnya. Mencari tahu dan mengetahui apa yang salah bisa menakutkan tetapi ini sangat membantu dalam membuat keputusan yang tepat.

Anda harus memperhitungkan berbagai pertimbangan penyimpangan proses tubuh Anda karena mungkin merupakan tanda bahwa Anda mungkin mengalami penyakit seperti kanker.

Berikut ini adalah tanda-tanda yang paling jelas dari kanker usus besar

• kram perut / sakit di perut



• keluar darah ketika buang air besar



• kehilangan berat badan secara tidak jelas



• mudah merasa lelah



• Anda merasa seperti harus ”buang air besar” ketika Anda tidak / dorongan buang air besar

Pada tahap awal, orang dengan penyakit tersebut (kanker usus), biasanya tidak memiliki gejala sama sekali sementara sel-sel kanker telah menyebar di luar usus, pada saat seseorang terlambat mengetahui, perawatan akan menjadi sulit dan sering tidak mungkin untuk menyembuhkan.

Skrining kanker usus adalah langkah yang paling penting yang dapat Anda ambil untuk mengurangi risiko Anda. Skrining rutin mengidentifikasi pertumbuhan dalam usus besar yang dapat berubah menjadi kanker jika tidak dihilangkan. Pertumbuhan ini, disebut sebagai polip atau adenoma, merupakan prekursor untuk penyakit tersebut. Ini berarti mereka muncul pada tahun-tahun usus sebelum berkembang, mereka bertindak sebagai semacam ”peringatan dini”. Sangat jarang muncul tanpa terlebih dahulu muncul sebagai polip atau adenoma.

Waktu antara pra-kanker dan kanker memberikan dokter banyak waktu untuk mencari tahu, dan yang paling penting, untuk merawat dan menghilangkan pertumbuhan sebelum mereka akhirnya menjadi ganas (kanker).

Oleh karena itu, skrining harus dilakukan sedini mungkin untuk mendeteksi sel-sel yang kemudian akan di menjadi ganas.

Mendidik diri pada masalah kanker usus besar akan sangat membantu bagi kita untuk menyadari tanda-tanda perusahaan/ gejala/ diagnosa/ pengobatan atau manajemen dan yang terbaik adalah mengetahui langkah-langkah pada pencegahan nya seperti makan diet yang tepat, istirahat yang cukup, gaya hidup sehat dan hidup bersih. Dan hindari penyebab kanker usus

TDW Club



Tuesday, March 8, 2011

Tugas dan Tanggung jawab Apoteker Pengelola Apotek


           Apoteker Pengelola Apotek sebagai pengelola apotek memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mengelola apotek terutama berkaitan dengan fungsi  apotek sebagai unit pelayanan kesehatan sekaligus sebagai institusi bisnis.

Tugas dan tanggung jawab tersebut meliputi berbagai bidang yaitu:

a. Bidang Pengabdian Profesi
  1. Melakukan penelitian seperlunya terhadap semua jenis obat dan bahan obat yang dibeli secara kualitatif dan kuantitatif.
  2. Mengadakan pengontrolan terhadap bagian pembuatan.
  3. Mengadakan pengontrolan serta pengecekan terhadap pelayanan atas resep yang telah dibuat dan diserahkan kepada pasien.
  4. Memberikan informasi tentang obat pada pasien, dokter, dan sebagainya.
  5. Menyelenggarakan komunikasi dengan mengusahakan segala sesuatunya agar dapat melancarkan hubungan keluar, masalah survei pasar, promosi dan publikasi.

Leadership Revolution


b. Bidang Administrasi
  1. Memimpin, mengatur, serta mengawasi pekerjaan tata usaha, keuangan, dan perdagangan.
  2. Membuat laporan-laporan keuangan dan surat menyurat.
  3. Mengadakan pengawasan, penggunaan, dan pemeliharaan akte perusahaan.
c. Bidang Komersial
  1. Merencanakan dan mengatur kebutuhan barang (obat, alat kesehatan, dll) untuk suatu periode tertentu sesuai aturan yang berlaku.
  2. Mengatur dan mengawasi penjualan dalam bentuk resep maupun penjualan bebas, langganan dsb.
  3. Menentukan kalkulasi harga dan kebijakan harga.
  4. Berusaha meningkatkan penjualan.
  5. Memupuk hubungan baik dengan para pelanggan.
  6. Menentukan kepada siapa dapat dilayani kredit atas pembelian obat.
  7. Mengadakan efisiensi dalam segala hal.

d. Bidang Tanggungjawab dan Wewenang
  1. Internal, bertanggung jawab mengenai segala aktivitas perusahaan kepada PSA. Eksternal bertanggungjawab kepada Departemen Kesehatan.
  2. Memimpin dan menggelola karyawan dalam melakukan pengabdian profesinya.
  3. Mengatur sistem penerimaan pegawai dan sistem penggajian

Sunday, March 6, 2011

PEMBUATAN SEDIAAN INFUS GLUKOSA DENGAN CARA STERILISASI PANAS BASAH


PRAFORMULASI

TINJAUAN FARMAKOLOGI BAHAN OBAT
Glukosa merupakan suatu monosakarida yang dapat di berikan secara peroral maupun intravena (sediaan infus) sebagai treatment dalam deplesi cairan dan karbohidrat. Di samping itu glukosa dapat juga menurunkan metabolisme lemak dan mencegah ketonemia. Glukosa juga dapat mengatasi hipoglikemia dan diberikan secara oral dalam tes toleransi glukosa sebagai diagnosa diabetes melitus.
  • Efek samping        :  Mual, muntah, iritasi lokal vena, thrombophlebitis, hyperphosphatemia    pada penggunaan jangka panjang.
  • Kontra indikasi     :  Penderita sindroma malabsorbsi glukosa-galaktosa dan pasien gagal ginjal.

TINJAUAN SIFAT FISIKOKIMIA BAHAN OBAT
  1. Struktur & Berat Molekul  








Dekstrosa (Glukosa)
    • D-Glukosa monohidrat
C6H12O6.H2O                          BM = 198,17
    • D-Glukosa anhidrat
C6H12O6                                  BM = 203,67

  1. Kelarutan
Dalam air                     :           mudah larut (Martindale 23th ed p. 1364); ( 1 : 1 ) pada 20oC (BP codex, p. 237)
Dalam etanol               :           sukar larut ( 1 : 200 ) (BP codex, p. 237)
Dalam CHCl3              :           Praktis tidak larut (Martindale 23th ed p. 1364)
Dll.                              :           larut dalam gliserin, praktis tidak larut dalam eter.     (Martindale 23th ed p. 1364)
                                  
  1. Stabilitas (Martindale 28th ed.)
Terhadap cahaya   :     Tidak stabil terhadap sinar γ pada proses sterilisasi.
Terhadap suhu       :     tidak stabil pada pemanasan suhu tinggi dan lama (terjadi     penurunan pH dan karamelisasi); Penyimpanan pada suhu < 25oC.
Terhadap pH         :     tidak stabil (terurai menjadi 5-hidroksi metil furfural pada pH basa). Injeksi glukosa stabil pada PH 3.5 – 6.5
Terhadap oksigen  :     Tidak stabil.

  1. Titik lebur              :     146° C  (α-D-Glukosa) : 150º C (β-D-Glukosa)

  1. Inkompatibilitas    : Dengan cyanocobalamin, kanamycin sulphate, novobiocin sodium, dan warfarin sodium.

BENTUK SEDIAAN, DOSIS DAN CARA PEMBERIAN
-  Infus intravena             =          Glukosa anhidrat 5% dalam 100ml.
-  Nasal drops                =          Glukosa monohydrat 20 gram.
-  Dosis                          =          Sediaan mengandung glukosa anhidrat 5%
25 – 50 %                  =          Untuk cerebral oedema atau intoksikasi akut
2 – 10 %                    =          Untuk mengganti ion elektrolit dan kalori
20 – 50 %                  =          Intake kalori dengan hidrasi minimum
-  Cara Pemberian          =          Intra vena

FORMULASI



2.1. BENTUK DAN VOLUME SEDIAAN
-  Bentuk sediaan  : infus glukosa
-  Volume sediaan : 100 ml.

Business Mastery


2.2. PERMASALAHAN FORMULASI
1.      Diinginkan dosis tunggal untuk infus intravena dengan volume besar.
2.      Glukosa tidak stabil terhadap pemanasan suhu tinggi pada kondisi pH basa karena glukosa akan terurai menjadi 5-hidroksi metil furfural yang berwarna coklat (terjadi penurunan PH, karamelisasi, dan degradasi).
3.      Sediaan parenteral harus bebas mikroorganisme, pirogen, partikel asing dan jernih.
4.      Norit yang digunakan dalam pembebasan pirogen dapat mengadsorpsi glukosa.

2.3. PENCEGAHAN MASALAH
1.      Tidak perlu penambahan antimikroba.
2.      Pada proses sterilisasi, pH diatur ± 6 dan suhu dikontrol atau diatur sedemikian rupa supaya pada akhir proses sterilisasi larutan glukosa tetap stabil.
3.                             ♦          Untuk membebaskan mikroorganisme, dilakukan metode overkill dengan sterilisasi panas basah pada suhu 115º selama 30 menit.
♦          Untuk membebaskan partikel asing, dilakukan filtrasi membran.
♦          Untuk membebaskan pirogen, dilakukan metode removal dengan penambahan adsorbent yaitu norit 0,1%.
4.      Glukosa ditambahkan berlebih 35% dari jumlah norit yang ditambahkan.

2.4. MACAM-MACAM FORMULASI
Ø  Lactated Ringer’s 5% Dextrose Injection  (PDF Vol.2 1993)
R/dilihat sendiri di bukunya

Ø  Dextrose monohydrat 5.51% (PDF Vol.2, 1993)
R/ dilihat sendiri di bukunya

Ø  Cooper and Gunns 12th edition.
R/ dilihat sendiri di bukunya

Ø  Infus Intravena Glukosa 5% (Martindale 28th ed)
R/ dilihat sendiri di bukunya

2.5. FORMULASI YANG DIRENCANAKAN

   R/ ?????

§  pH sediaan = 6
§  Perhitungan  : (Dihitung sendiri ya)


Nama Bahan
Fungsi
Kelarutan
pH Stabilitas
Cara Sterilisasi
Glukosa anhidrat
Bahan aktif
Dalam air (1:1)
3,5 – 6,5
Panas Basah (Otoklaf)
Norit
Adsorben
-
-
Otoklaf
WFI
Pelarut
-
-
Otoklaf

Cara Sterilisasi Sediaan  :  Sterilisasi Panas Basah (Otoklaf) Suhu 115°C (30 menit).




PELAKSANAAN
3.1    CARA KERJA
1.      Penyiapan Alat (pencucian, pengeringan , dan sterilisasi alat)
§  Pencucian alat
1.      Alat /wadah gelas disikat dengan larutan tepol
2.      Dibilas dengan air kran
3.      Disemprot dengan uap
4.      Ditiriskan
5.      Dibilas dengan aqua deminineralisata
6.      Dibilas dengan air suling yang baru dibuat
§  Pengeringan
1.      Alat/ wadah gelas ditutup dengan kertas yang tembus uap air (lapis 2) untuk menghindari debu
2.      Dikeringkan dalam oven (lemari pengering) dalam keadaan terbalik (180oC selama 10 menit)
§        Sterilisasi
Alat yang sudah bersih dan kering, dibungkus rapat dengan aluminium foil (untuk sterilisasi dengan oven ) dan kertas perkamen (untuk sterilisasi dengan autoklaf) dibungkus rangkap 2.
Water For Injeksi ( WFI ) : aquadest dalam Erlenmeyer ditutup dengan aluminium foil dan diikat dengan tali, kemudian disterilkan dengan autoklaf.
2.      Timbang glukosa 7,5525 gram pada bekerglass steril
3.      Larutkan (2) dalam WFI ± 140 ml
4.      Cek pH, bila pH > 6 maka di tambahkan HCl 0,1N ad pH 6
5.      Tambahkan WFI ad 150 ml (Kalibrasi bekerglass 150 ml)
6.      Timbang norit 0,15 g pada gelas arloji steril
7.      Panaskan (5) ad suhu 80˚C, kemudian tambahkan norit
8.      Aduk larutan tersebut selama 15 menit pada suhu 80˚C → tambah WFI ad 150 ml
9.      Saring dengan kertas saring rangkap 2 → tampung pada Erlenmeyer steril (kalibrasi volume filtrat)
10.  Panaskan filtrat pada suhu 80˚C selama 15 menit → tambah WFI ad volume filtrat tanda
11.  Saring lagi dengan kertas saring yang sama dengan (10) → tampung pada Erlenmeyer steril
12.  Kemudian saring filtrat dengan kertas saring berdiameter 0,45 µm dan masukkan dalam botol infus ad volume 100ml
13.  Bilas tutup dengan sisa larutan, tutup diikat dengan tali sampanye yang kuat
14.  Sterilisasi sediaan dengan otoklaf suhu 115˚C selama 30 menit.
15.  Beri label serta etiket

IPC   : -  Kadar glukosa
-  pH larutan
-  Kejernihan
-  Kadar pirogen
-  Kadar 5-hidroksimetil furfural
-  Kandungan partikel
 Sterilisasi : Otoklaf suhu 115°C selama 30 menit
Siklus waktu
Waktu
(menit)
Pemanasan
6
Penghilangan udara
5
Waktu tunggu
4
Kesetimbangan
2
Sterilisasi/pembinasaan
30
Waktu jatuh
2
Pendinginan
15









3.2    ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN DAN CARA STERILISASINYA

No.
Nama alat
Ukuran
Jumlah
Cara sterilisasi
Suhu
(°C)
Waktu
(menit)
1.
2.

3.
4.

5.
6.
7.

8.
9.
10.
11.
12.
13.
Gelas arloji
Beker Glass

Batang Pengaduk
Corong + Kertas Saring
Erlenmeyer
Spuit Injeksi
Gelas Ukur

Spatel Logam
Pipet Tetes
Pinset
Penara
Botol infus
Tutup karet
-
50 ml
200 ml
-
-

200 ml
12 ml
25 ml
100 ml
-
Panjang
-
-
100 ml
-
1
1
1
1
2

2
1
1
1
2
2
2
1
1
1
oven
oven
oven
oven
otoklaf

oven
oven
otoklaf
otoklaf
oven
otoklaf
oven
oven
oven
otoklaf
180
180
180
180
115

180
180
150
150
180
115
180
180
180
115
30
30
30
30
30

30
30
30
30
30
30
30
30
30
30









 PEMBAHASAN
Pada praktikum formulasi sediaan steril kali ini dibuat sediaan infus dengan bahan aktif glukosa. Glukosa merupakan suatu monosakarida yang dapat diberikan secara peroral maupun intravena (sediaan infus) sebagai treatment dalam deplesi cairan dan karbohidrat. Di samping itu glukosa juga dapat menurunkan metabolisme lemak, mencegah ketonimia, mengatasi hipoglikemia, dan diberikan secara oral dalam tes toleransi glukosa sebagai diagnosa diabetes mellitus.
Sebelum dilakukan formulasi sediaan infus glukosa yang stabil, aman, efektif, dan aseptabel, terlebih dahulu dilakukan studi praformulasi analisis sifat fisiko kimia bahan. Dari studi pustaka diperoleh bahwa glukosa stabil terhadap cahaya sehingga penyimpanan sediaan terlindung cahaya untuk menjaga kestabilan sediaan, tidak stabil pada pH basa terurai menjadi 5-hidroksi metil furfural sehingga pH sediaan dibuat pada rentang pH tertentu yaitu pada pH 3,5 – 5,5, glukosa tidak stabil pada pemanasan suhu tinggi dalam waktu yang lama karena terjadi penurunan pH dan karamelisasi sehingga sterilisasi tidak dilakukan pada suhu yang tinggi dalam waktu yang lama serta penyimpanan sediaan disarankan pada suhu yang sejuk. Untuk membuat sediaan yang efektif dibuat kadar sediaan yang sesuai tujuan terapi yaitu untuk sediaan infus dengan rentang kadar 2,5 – 7 %. Untuk menjamin keamanan sediaan perlu diperhatikan beberapa hal diantaranya : bebas pirogen sehingga harus melalui proses depirogenasi, pada praktikum ini dilakukan penambahan norit dengan kadar 0,1 – 5 %, bebas partikel untuk mencegah terbentuknya trombus, bebas mikroorganisme melalui proses sterilisasi, pH sediaan tidak terlalu asam maupun basa tetapi sebisa mungkin mendekati pH fisiologis, tonisitas glukosa dibuat isotonis dengan kadar 5% atau bisa dibuat hipertonis tetapi dengan penyuntikan yang perlahan.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah hasil degradasi pada pemanasan glukosa yaitu 5-hidroksi metil furfural ( 5-HMF ) harus tidak melebihi batas tertentu seperti yang tertera dalam Farmakope Indonesia karena bersifat alergenik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membatasi produksi 5-hidroksi metil furfural adalah suhu karena semakin tinggi suhu maka semakin banyak produksi 5-HMF, pH karena semakin tinggi pH maka semakin mudah terbentuk 5-HMF, serta konsentrasi glukosa karena semakin besar konsentrasi glukosa maka pembentukan 5-HMF semakin mudah.
Konsentrasi glukosa dalam sediaan ini adalah 5 % untuk sediaan infus intravena. Volume yang dibuat adalah 100 ml untuk pemakaian single dose dan dilebihkan 50 ml sesuai dengan ketentuan sehingga volume total yang dibuat 150 ml. Volume sediaan dilebihkan untuk mengantisipasi adanya volume yang hilang selama proses pengisian dan pembuatan.
Sediaan infus glukosa harus bebas dari mikroorganisme dan pirogen maka sediaan dibebaskan dari pirogen dengan cara removal (ditambah norit 0,5% dari volume sediaan keseluruhan). Selain mengabsorpsi pirogen, norit juga mengabsorpsi glukosa sehingga perlu penambahan glukosa 35% dari jumlah norit yang digunakan. Sediaan diinginkan bentuk larutan sehingga digunakan water for injection sebagai pelarut.
Sediaan ini hanya digunakan untuk sekali pemkaian sehingga tidak diperlukan penambahan anti bakteri pada pembuatannya karena sediaan yang dibuat telah disterilkan dan akan tetap steril sampai pada batas kadaluarsa. Selama sediaan sudah dibuka maka resiko kontaminasi akan tinggi, sehingga kemungkinan terdapat adanya sisa dari sediaan yang telah dipakai tidak diperbolehkan untuk dipergunakan kembali karena sterilitas tidak terjamin lagi. Sediaan disterilkan dengan metode overkill yaitu dengan metode panas basah menggunakan autoklaf suhu 115°C selama 30 menit.


Saturday, March 5, 2011

STUDI PEMAHAMAN MASYARAKAT MENGENAI MANAJEMEN PENGGUNAAN ANTASIDA

Latar Belakang Masalah
        Antasida adalah sediaan yang mengandung senyawa organik dan dapat meningkatkan kerja lambung atau mempunyai kemampuan menetralkan atau mengurangi keasaman dalam lambung. Senyawa-senyawa ini tidak menetralkan asam lambung secara keseluruhan atau membuat pH lambung menjadi pH 7.0 tetapi menetralkan 90% asam lambung sehingga pH lambung menjadi pH 2.3 atau menetrlkan asam lambung menjadi pH 3.3. Antasida tidak mengurangi volume asam lambung yang disekresikan bahkan dapat meningkatkan sekresi asam lambung. (Garnett, 1990)
         Antasida dapat digunakan sebagai profilaksis maupun terapi. Sebagai profilaksis penggunaan antasida di dalam terapi pendarahan lambung dengan menjaga pH lambung di atas 3.5 serta profilaksis dari stres ulcer. Antasida juga digunakan sebagai terapi gastroesophageal reflux disease (GERD), dispepsia non ulcer, gastritis akut, stres ulcer, pendarahan lambung, ulkus peptikum. Selain itu antasida juga digunakan dalam terapi pengobatan lainnya yang mempengaruhi sistem gastrointestinal. Penyakit lain yang membutuhkan terapi dengan antasida tersebut antara lain adalah kondisi uremia, misal pada pasien diabetes mellitus, lesi pada sistem saraf pusat, trauma, luka bakar (Curling’s ulcer), sepsis, cerebrovascular accident, tumor endokrin yang memproduksi gastrin, dan pada pasien yan mengalami operasi serta mendapat obat yang mengiritasi sistem gastrointestinal antara lain NSAID, kortikosteroid, reserpin, kolsikin, alkohol (Garnett, 1990)
            Antasida sering digunakan oleh masyarakat untuk mengatasi sementara penyakit lambung yang ringan sampai sedang. Penggunaan antasida di masyarakat umumnya mengatasi penyakit maag, dan mereka biasanya menggunakan obat untuk mengurangi kelebihan asam lambung. Hal ini dapat membantu mengurangi keluhan gejala serta mempercepat penyembuhan (karena asam lambung mengiritasi jaringan yang mengalami peradangan). Selain itu, masyarakat menghindari juga beberapa makanan, minuman, maupun penggunaan obat tertentu. Banyak pilihan obat yang dapat digunakan dalam penanganan penyakit maag. Bagi masyarakat pilihan pengobatan juga harus berdasarkan pemeriksaan. Untuk pengobatan sendiri (swamedikasi) hanya bersifat menghilangkan gejala penyakit. Bila gejala penyakit tidak kunjung mereda setelah tiga sampai tujuh hari, mereka mengonsultasikannya kepada dokter.
            Namun bila penggunaan antasida diberikan tanpa adanya manajemen yang benar terhadap antasid itu sendiri, maka usaha pengobatan akan menjadi sia-sia. Masyarakat perlu mengetahui tentang bagaimana mengelola antasid untuk mencapai keberhasilan pengobatan demi menigkatkan kualitas kesehatannya. Gerakan keluarga sadar obat merupakan sebagai salah satu bentuk kepedulian ISFI jawa timur terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia seutuhnya.
              Program dari GKSO (Gerakan Keluarga Sadar Obat) yang utama saat ini adalah DAGUSIBU, dapatkan, gunakan, simpan dan buang obat dengan benar merupakan salahan satu hal yang paling mendasar dalam dunia kesehatan bidang farmasi. Paling mendasar karena informasi DAGUSIBU merupakan inti permasalahan yang berkaitan dengan obat.
            Motto DAGUSIBU yang berisi mengenai cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat dengan benar ini sebenarnya sudah lama diperkenalkan di kalangan Apoteker, hanya saja kurang sosialiasi dan pengenalan kepada masyarakat terutama, kalangan awam akan informasi kesehatan.
Cara mendapatkan obat di tempat yang benar meliputi permasalahan mengenai kehadiran Apotek selama ini masih terdapat di daerah kota. Namun seiring berkembangnya perekonomian dan pengetahuan masyarakat, Apotek yang berdiri kini sudah mulai berkembang dan bertambah banyak denagan kualitas pelayanan yang bervariasi. Persoalan yang sering muncul adalah keahlian dan pengetahuan tentang obat yang dijual dan berikan juga berbeda.
           Masyarakat umumnya kurang mendapatkan edukasi mengenai penggunaan obat yang dikonsumsi dengan benar. Selain itu, fenomena yang ada di masyarakat adalah rasa ingin menolong terhadap tetangga, saudara, ataupun sesama, dengan begitu apabila ada yang memiliki keluhan penyakit yang dianggap sama, obat yang tersisa diberikan sebagai bahan uji coba kalau-kalau cocok. Tindakan tersebut akan berbahaya apabila obat yang diminum tidak cocok, atau memiliki efek samping alergi terhadap daya tahan tubuh kita.
           Penyimpanan obat di tempat yang benar juga merupakan hal yang penting. Selama ini masyarakat kurang memperhatikan cara menyimpan obat yang telah digunakan. Bahkan menyediakan kotak obat juga belum banyak dilakukan oleh masyarakat umumnya di Indonesia. Hal ini yang membahayakan apabila di rumah tersebut terdapat anak-anak. Selain itu, terdapat obat yang harus disimpan dengan perlakuan khusus, misalnya ada obat yang disimpan di suhu ruang (25-300C), ada pula obat yang harus disimpan di dalam lemari es. Semua itu bertujuan untuk menjaga stabilitas obat supaya tetap memberikan efek terapi
          Selain itu, masyarakat diharapkan dapat membuang obat dengan semestinya. Sebelum membuang obat , masyarakat perlu mewaspadai tanggal kadaluarsa obat dan kondisi obat tersebut. Apabila batas kadaluarsa obat tersebut masih panjang, diharapkan masyarakat tetap menyimpan obat tersebut tanpa harus diberikan kepada tetangga, saudara, ataupun orang lain. Seharusnya masyarakat membuang obat yang berlabel maupun terbungkus dalam strip adalah dengan cara membuka seluruh kemasan obat tersebut dan membuang ke tempat sampah dalam kondisi yang sudah tidak bisa dikonsumsi orang lain (dihancurkan).

Monday, April 19, 2010

Asuhan Kefarmasian PJK

Rencana asuhan kefarmasian bagi pasien SKA secara garis besar pada prinsipnya adalah terdiri dari empat komponen yakni melaksanakan manajemen DRPs, menjaga dan berupaya agar pedoman penatalaksanaan pasien SKA berjalan sebagaimana telah disepakati berdasarkan standar pelayanan profesi dan kode etik yang telah ditetapkan, melaksanakan pemberdayaan pasien dalam hal penggunaan obat secara cerdas serta bijak dan pengetahuan tentang penyakit jantung, dan penelitian (tabel 7). Dengan tujuan untuk kepuasan pasien dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan serta sebagai bentuk pemenuhan hak dasar sebagai pasien. No Empat Prinsip Dasar Tujuan Dari Rencana Pharmaceutical Care 1 Melaksanakan manajemen DRPs 2 Terapi berjalan sesuai Guidelines penatalaksanaan SKA 3 Pendidikan dan informasi 4 Penelitian Pada umumnya penderita SKA yang dirawat di rumah sakit dengan kondisi multiple disease serta mendapat terapi lebih dari satu macam obat (multiple drug therapy). Kondisi tersebut dapat menjadi berisiko tinggi atau cenderung mengalami masalah-masalah yang berkaitan dengan obat atau drug-related problems (DRPs) yang akan mempengaruhi outcome dari penggunaan obat tersebut. Karena biasanya penderita yang menggunakan banyak obat dan mengalami multiple disease, merupakan faktor yang dapat meningkatkan terjadinya drug induced disease, interaksi, efek samping obat dan kurang efisiennya proses pengobatan. Pelaksanaan asuhan kefarmasian, apoteker dapat berperan dari awal atau bisa dilaksanakan sebelum penderita kerumah sakit, di rumah sakit dan/atau setelah keluar dari rumah sakit/komunitas. 5.1. Sebelum kerumah sakit. Pada prinsipnya pelaksanaan Pharmaceutical Care sebelum ke rumah sakit / komunitas adalah seorang apoteker harus dapat mengenali bahwa seseorang telah terkena PJK atau SKA dari gejala dan keluhan yang dirasakan dan dikeluhkannya. Berdasarkan gejala dan keluhan yang spesifik dari pasien dengan kemungkinan SKA, maka: 1. Berikan asetil salisilat 300 mg dikunyah 2. Berikan Nitrat sublingual 3. Kirim kefasilitas yang memungkinkan 5.2. Di Rumah Sakit 5.2.1. IGD/UGD Rencana Pharmaceutical Care yang dibuat harus mencakup dan mempunyai tujuan dalam hal menjamin dan memastikan ketersediaan dan distribusi barangbarang kefarmasian untuk terlaksananya terapi/penatalaksanaan pasien SKA secara optimal. 5.2.2. Rawat Inap, ICCU/CVC Rencana asuhan kefarmasian yang dibuat untuk penderita SKA harus mempunyai tujuan untuk mengatasi masalah gejala yang muncul dan meningkatkan kesempatan bertahan untuk jangka waktu lama dengan kondisi bebas dari terapi. Hal-hal penting yang diperlukan harus mencakup: 1. Pengoptimasian regimen obat antiangina penderita SKA untuk menjamin kerasionalannya apakah penambahan terapinya sampai tercapai kontrol gejala yang baik. 2. Memonitor setiap penambahan dan/atau penggantian regimen obat pada pasien SKA untuk melihat keberhasilan dan kemampuan toleransinya dengan melakukan pengukuran hasil pengobatan melalui analisa frekuensi serangan angina yang terjadi pada pasien. . Memberikan konsultasi pada pasien untuk memastikan bahwa dia mengerti tujuan dari pengobatan dan menggunakan obatnya dengan tepat sehingga tercapai efek maksimum terapi dan minimalisasi efek samping. Menjelaskan kepada pasien, alasan pemberian setiap obat yang digunakannya serta hubungannya dengan gejala dan keluhan yang dirasakannya. 3. Memberikan konsultasi pada pasien untuk memastikan bahwa dia mengerti tujuan dari pengobatan dan menggunakan obatnya dengan tepat sehingga tercapai efek maksimum terapi dan minimalisasi efek samping. Menjelaskan kepada pasien, alasan pemberian setiap obat yang digunakannya serta hubungannya dengan gejala dan keluhan yang dirasakannya. 4. Memberikan konsultasi pada pasien perihal pola hidupnya (seperti diet, merokok dll) untuk memastikan bahwa dia tidak mengkompromikan pengobatannya dalam cara apapun. 5. Memastikan bahwa pasien mendapatkan saran dan obat yang kontinu ketika keluar dari rumah sakit. Sebelum pulang ke rumah, pasien harus mendapatkan petunjuk yang detail mengenai pengobatannya termasuk penjelasan bagaimana mendapat obat selanjutnya dan apa yang harus dilakukan jika gejala yang muncul tidak terkontrol atau jika dia terkena efek samping dari pengobatannya. 6. Memastikan prinsip-prinsip dari manajemen DRPs sudah berjalan dengan optimal. Rencana asuhan kefarmasian dapat mencakup beberapa faktor penting antara lain: 1. Memastikan bahwa IV heparin dan GTN digunakan secepat mungkin untuk meningkatkan suplai oksigen ke jantung pasien, mengurangi frekuensi serangan angina, mengurangi iskemia jantung sehingga mencegah berkembangnya iskemia menjadi IMA 2. Memonitor keberhasilan / ketepatan dari infus yang diberikan dengan melihat pada pengurangan rasa sakit dan resolusi pada depresi ST pada EKG pasien, dan yakinkan/pastikan bahwa dosis dititrasi dengan benar sehingga pasien tidak mengalami/terkena efek samping dari infus. 3. Jelaskan pada pasien kenapa pengobatan selanjutnya tidak mengontrol gejalanya dan memberikan jaminan kepada pasien bahwa akan ada tindakan ke depannya yang dapat dilakukan untuk mengontrol sakit dadanya. 4. Menjelaskan kepada pasien untuk mencoba dan/atau melaksanakan relaksasi sebisa mungkin kapanpun dengan tujuan untuk mencegah terjadinya peningkatan kebutuhan suplai oksigen kejantung.